25 Mei 2012

Di Matteo Bikin Abramovic Kecele

0 comments

Satu minggu lalu, klub raksasa Inggris, Chelsea merayakan trofi Liga Champions pertamanya. Tidak begitu diunggulkan memang, namun Chelsea berhasil juara. Klub milik taipan tajir asal Rusia, Roman Abramovich ini menghentak dunia sepak bola. Meski berstatus sebagai tim underdog, namun perjuangan tim melawan keretakan dan permasalah internal yang didera tim saat masih dilatih Villas Boaz akhirnya membuahkan hasil.

Kala itu, banyak pengamat memprediksi bahwa masa Chelsea di Liga Champions tahun ini sudah habis setelah kalah 3-1 oleh Napoli. Terlebih, pada saat yang sama, Chelsea baru memecat pelatih saat itu, Villas Boaz dan berlalih ke Di Mateo yang merupakan asisten pelatih sebelumnya.  

Namun Di Matteo, yang kalem dan sulit diprediksi, membuktikan tangan dinginnya. Sejak diarsiteki Di Matteo, Chelsea mengami tren positif. Kemengan demi kemenangan diraih oleh tim biru ini. Di Mateo yang hanya diposisikan sebagai pelatih sementara memberikan piala pertamanya bagi Chelsea, Piala FA. 

Tren yang sama juga berlaku di Liga Champions. Misi sulit untuk menang sedikitnya empat gol atas Napoli di leg kedua perdelapan final Liga Champions berhasil dilalui. Benfica dan Barcelona menjadi korban berikutnya sampai akhirnya Bayern Muenchen dipermalukan di depan publiknya sendiri. Di Matteo sekali lagi membuktikan kapasitasnya sebagai ahli meracik tim, kendati Chelsea harus terlempar dari empat besar EPL atau yang pertama kali sejak 2003. 

Di Matteo setidaknya menggagalkan dua asumsi kuat. Pertama, ternyata liga Champions tahun ini tidak diraih oleh tim unggulan yang sudah terlatih dengan ketat dan kerasnya liga champion, semacam Barcelona, Bayern Munchen, dan Real Madrid. Kedua, ternyata Abramovic salah dalam menilai pelatih. Artinya, tidak selalu pelatih yang membacawa suatu tim menjadi juara liga adalah pelatih top. Di matteo yang notabene hanya asisten yang diangkat menjadi pelatih sudah membatalkan asumsi ini. 

Berkaitan dengan ini, menarik untuk mengetahui berapa trilliun yang sudah dikucurkan Abramovic untuk membangan Chelsea dan bagaimana sesuatu yang murah memberikan pelajaran bagi Abramovic. Bila dihitung, secara total hingga 2012, Abramovich sudah mengeluarkan dana $ 2,8 miliar (Rp 26 triliun). Angka itu sudah termasuk lebih dari $ 300 juta yang dikeluarkannya untuk melunasi utang Chelsea sekitar dua tahun lalu. 

Abramovich memang memoles Chelsea lebih mewah. Dari sisi pemain, sejak 2003 hingga kini, dia telah merekrut lebih dari 60 pemain berkategori sangat populer. Menurut penelitian ahli keuangan olahraga, Daniel King, dari koran The Sun, nilai total transfer para pemain itu mencapai $ 1,02 miliar. 

Di lapangan, musim 2003-04, Chelsea sudah mengancam papan atas EPL dengan menjadi juara dua dan mencapai semifinal Liga Champions. Setahun kemudian, berkat kehadiran pelatih Jose Mourinho, Chelsea benar-benar masuk dalam lingkungan elit Eropa. Dua gelar EPL secara beruntun (2005 dan 2006) menjadi pengakuan mereka. Itulah koleksi gelar EPL pertama Chelsea dalam setengah abad. 

Sejak itu, Chelsea selalu menjadi kandidat juara EPL. Tetapi, uniknya, Abramovich terkesan menganggap biasa gelar juara EPL atau trofi Piala FA yang bergengsi atau Piala Liga Inggris. Nampaknya dia kenyang dengan 3 gelar EPL, 2 trofi Piala Liga dan 4 trofi Piala FA selama menjadi pemilik Chelsea. Dia hanya ingin melihat timnya merajai Eropa. 

Itulah impian terbesarnya. Itu sebabnya Chelsea memiliki 7 pelatih berbeda dalam 8 tahun terakhir. Pelatih permanen seperti Mourinho, Avram Grant, Luiz Felipe Scolari, Carlo Ancelotti dan Andre Villas Boas harus angkat koper dengan uang pesangon yang tidak sedikit. 

Padahal Ancelotti, sebagai contoh, meraih gelar ganda pada musim pertamanya di Inggris dua tahun lalu. Pelatih dari Italia itu mengantar The Blues juara EPL dan Piala FA. 

Sekali lagi, Abramovich tidak menganggapnya istimewa. Yang dia inginkan adalah Chelsea menjuarai Liga Champions. Dan di 3/4 musim ini, selepas pemecatan Villas Boas, Abramovich berpikir tentang ambisinya di musim depan. Fabio Capello disebut akan menjadi pelatih tetap Chelsea musim depan untuk mewujudkan proyek ambisius itu. Padahal, musim ini belum juga selesai dilalui oleh Terry dkk bersama pelatih sementara Roberto Di Matteo. 

Apa nyana, Di Matteo berhasil melampaui segala ekspektasi dan prediksi semua orang, termasuk sang bos besar. Pertama, Di Matteo hanya pelatih sementara. Kedua, Di Matteo berwenang penuh saat Chelsea sedang berada dalam situasi sulit. Terseok-seok menuju papan atas EPL dan baru saja dihantam Napoli di perdelapan final Liga Champions pada bulan Maret 2012. 

Di Matteo seakan membuat Abramovic kecele. Pasalnya, darinya yang hanya pelatih sementara, relatif lebih murah ketimbang pelatih-pelatih top Chelsea sebelumnya dan tidak mengenyam banyak pengalaman dalam bidang kepelatihan, berhasil mengantarkan Chelsea juara Liga Champions. Mungkin Abramovic akan geleng-geleng tak percaya atas keberhasilan Di Matteo. Dan pastinya ia mesti berpikir ulang untuk menghadirkan pelatih top lainnya guna menggantikan Di Matteo.
Baca lanjutannya dong...

15 Mei 2012

Warga Syiah Sampang Masih Alami Diskriminasi

0 comments

Surabaya— Diskriminasi dan pelecehan terhadap warga Syiah di Dusun Nangkernang, Karang Gayam, Sampang, Madura, hingga saat ini masih terjadi. Menurut Pendeta Sutrisno dari Kelompok Kerja Advokasi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan Jawa Timur, kekerasan yang terjadi diduga dilakukan oleh warga sekitar dengan menyebarkan hate speech atau syiar kebencian. 

“Ada beberapa kekerasan yang dialami warga Syiah Sampang, di antaranya untuk anak-anak mereka yang sekolah mendapatkan cemoohan dan orang tua mereka mendapatkan intimidasi ketika bekerja,” kata Pendeta Sutrisno kepada wartawan di kantor Lembaga Bantuan Hukum Surabaya kemarin. Aliansi yang terdiri dari atas 12 lembaga di Jawa Timur itu mencontohkan, kekerasan terhadap anak setidaknya terjadi pada 150 anak warga Syiah yang saat ini bersekolah di Sekolah Dasar Negeri 4 Karang Gayam, Sampang. 

Kekerasan ini dilakukan, misalnya, dengan meminta siswa yang orang tuanya beraliran Syiah untuk maju ke depan dan memperolok diri mereka dengan sebutan “anak aliran sesat”. Selain itu, pihak sekolah mewajibkan anak kelas 6 melampirkan surat keterangan dari RT dan RW setemoat jika ingin mengikuti ujian nasional. 

Tak hanya itu, warga yang ingin memindahkan anaknya bersekolah di tempat lain juga dipersulit. “Kami mendesak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan investigasi ke Sampang,” kata Sutrisno. Di tempat yang sama, Koordinator Yayasan Center for Marginalized Communities Studies Surabaya, Akhol Firdaus mengatakan kekerasan yang dialami warga Syiah juga terjadi pada sektor ekonomi. “Warga Syiah secara terang-terangan dilarang memanen padi mereka,” kata Akhol. 

Karena itu aliansi juga mendesak kepolisian setempat untuk segera menangkap seluruh warga yang dengan sengaja melakukan hate speech atau syiar kebencian di Sampang. www.tempo.co
Baca lanjutannya dong...

03 Maret 2012

PBB Desak FIFA Berikan Izin Pemakaian Jilbab

2 comments

PERSERIKATAN Bangsa Bangsa (PBB) meminta Badan Sepak Bola Dunia (FIFA) mengizinkan wanita Muslim memakai penutup kepala atau jilbab yang telah dirancang khusus ketika memainkan olahraga tersebut. 

Wilfried Lemke, penasihat khusus olahraga untuk Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, menulis surat kepada Presiden FIFA, Sepp Blatter, mengekspresikan dukungannya pada inisiatif yang diajukan oleh Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) bahwa para pemain 'memiliki hak untuk mengenakan jilbab, yang dapat dibuka dengan mudah karena menggunakan Velcro pada pertandingan-pertandingan dan kompetisi resmi FIFA.' 

Ketua AFC, Zhang Jilong, meminta pelarangan mengenakan penutup kepala dapat dicabut pada akhir Januari, dengan mengklaim bahwa desain yang baru dapat menghindari cedera leher. 

Lemke berkata bahwa perubahan peraturan itu "...akan menghilangkan penghalang yang dapat merintangi perempuan dan gadis untuk berpartisipasi pada sepak bola dan akan menjadi contoh positif." 

Ia melanjutkan, "Itu akan memberi pesan bahwa setiap pemain putri, dari level teratas sampai akar rumput, memiliki kebebasan untuk memilih memakai atau tidak memakai bagian tertentu pakaian ini selama di lapangan." 

"Itu akan memberi kesempatan luar biasa pada atlet-atlet putri untuk mendemostrasikan bahwa mengenakan penutup kepala bukan halangan untuk unggul pada kehidupan dan olah raga, dan akan berkontribusi untuk menentang stereotip jender dan membawa perubahan pada mentalitas," tambah Lemke. 

Pemakaian jilbab mendapat larangan oleh FIFA pada 2007 dengan alasan keselamatan, namun baik Zhang maupun Lemke berpendapat bahwa desain terbaru telah mengeliminasi potensi risiko cedera serius. "Secara pribadi saya telah melihat desain-desain baru dengan sambungan velcro di leher, yang akan terlepas jika penutup kepala itu ditarik, memastikan keselamatan para pemain," kata Zhang. 

Dewan Asosiasi Sepak bola Internasional, pembuat peraturan sepak bola level tertinggi, dijadwalkan untuk bertemu pada Senin di Inggris untuk mendiskusikan proposal tersebut pada Pertemuan Tahunan ke-126. (Tribunnews)
Baca lanjutannya dong...

08 Juli 2011

Roman Gadis Lebanon dan Filosofi Lilin

0 comments


Mungkin ku tak sanggup usir kegelapan ini,
Tapi dengan nyala redup ini
Kuingin tunjukkan beda gelap dan terang
Kebenaran dan kebatilan.
Orang yang ikuti cahaya,
Meski redup nyalanya,
Akan besar di hatinya.

Kira-kira empat tahun lalu, di sebuah bazaar buku, aku berkesempatan membeli sebuah novel. Sepertinya, itu novel pertama yang aku beli dalam hidupku. Judulnya, Mustafa Chamran. Dari judulnya saja, kurasa novel ini memang tidak menarik, namun syair di atas yang dikutip pada cover novel ini cukup membuka ruang bagi ketertarikanku untuk membelinya.

Lagian, aku pikir sudah saatnya ku mulai mencoba membaca karya-karya semacam ini, dan tidak melulu membeli dan membaca buku-buku bertemakan serius dan cukup mengkerutkan dahi. Dan untungnya, buku ini tidak mengecewakanku. Pasalnya, selain menyuguhkan narasi yang apik, novel ini mengenalkan nilai-nilai religius dalam kerangka yang mungkin bagi beberapa orang ternilai non-religius, yakni perang. Ya, perang yang bagi banyak orang –persis seperti halnya Ghadeh dalam novel ini– diyakini berkarakter buruk dan dibenci. Karenanya, menjadi wajar menuduh orang yang berkecimpung dengannya dengan sangat rendah.

Adalah Ghadeh, seorang wartawan, penyair, dan penulis, yang hidup di Lebanon Selatan, sebuah kawasan yang akrab dengan peperangan. Namun begitulah, Lebanon Selatan tetaplah Lebanon Selatan dan bukan Ghadeh yang tak menyukai perang. Dan baginya, tak masuk akal bila ada orang yang suka perang.

Tetapi, sontak pandangannya tentang perang berubah ketika memandangi sebuah lukisan berlatar belakang hitam dengan lilin kecil yang menyala amat redup di tengahnya. Di bawah lukisan itu tertera syair Arab:

Mungkin ku tak sanggup usir kegelapan ini,
Tapi dengan nyala redup ini
Kuingin tunjukkan beda gelap dan terang
Kebenaran dan kebatilan.
Orang yang ikuti cahaya,
Meski redup nyalanya,
Akan besar di hatinya.

Sang pelukis adalah Mustafa Chamran, yang saat itu dalam benak Ghadeh identik dengan perang dan tentu tak asing dengan darah. Sebagai seorang pejuang yang selalu berada di garda depan peperangan, nama Chamran memang sering menghiasi berita-berita lokal Lebanon, karenanya Ghadeh tak asing dengan nama itu.

Suatu ketika, Ghadeh berkesempatan bertemu dengan Chamran di yayasannya yang berorientasi dalam pengurusan anak-anak yatim. Ghadeh tertegun, seakan tak percaya, ternyata Chamran seorang yang ramah dan murah senyum. Sangat kontras dengan apa yang dibayangkan Ghadeh tentang seorang panglima perang, yang berperangai keras dan bakhil senyum.

Sekali dua kali, bahkan beberapa kali bertemu Chamran, hati Ghadeh mulai terusik ketertarikan pada Chamran. Benar, ia jatuh hati padanya. Kepribadiannya yang sederhana, akhaknya yang mulia, dedikasi yang tinggi pada perjuangan Islam dan kasih-sayangnya pada anak yatim merupakan serangkaian alasan dibalik jatuh hati Ghadeh pada Chamran. Chamran sendiri rupanya juga memiliki ketertarikan pada Ghadeh. Baginya, Ghadeh adalah gadis baik, meskipun kala itu ia tidak berjilbab.

Singkat cerita, kedua insan ini sepakat untuk melanjutkan hubungan keduanya ke jenjang pernikahan. Namun, rintangan menghadang. Orang tua Ghadeh tak setuju putrinya menikah dengan Chamran. “Kau sudah gila!”, kata orang tua Ghadeh dengan nada tinggi. “Lelaki itu 20 tahun lebih tua darimu. Dia orang Iran. Seluruh hidupnya dihabiskan dalam perang. Dia tak punya harta, bukan satu bangsa dengan kita, bahkan tak punya kartu tanda pengenal!”
Orang tua Ghadeh –dan mungkin sama dengan kebanyakan orang tua dari seorang gadis– hanya melihat penampilan luar seorang pria, dan jarang sekali memperhitungkan bagaimana kepribadian dan nilai spiritual atau akhlaknya.

Dengan kehendak yang kuat dan cinta yang terlanjur membara, Ghadeh berniat melangsungkan pernikahan meski tanpa izin orang tuanya. Namun, dengan bijak Chamran menanggapi, “Berusahalah dengan cinta dan kasih sayang membuat mereka ridha! Aku tak suka, sementara aku menikah denganmu, hati ayah dan ibumu terluka.” Ghadeh mengikuti nasehat lelaki idamannya ini, dan akhirnya kedua orang tuanya mengizinkan mereka berdua menikah.

Tapi, kontras dengan kehidupan yang diimpikan sepasang suami-istri dewasa ini yang sarat akan ketenangan, kebahagiaan, dipenuhi harta yang melimpah, dan jabatan yang mapan. Mereka justru akrab dengan kesederhanaan, perjuangan, pengorbanan, kesedihan, tangis, dan teror musuh. Tapi, justru dari sinilah, hikmah dan pelajaran dari kehidupan didapat oleh Ghadeh.

Beberapa saat setelah menikah, Chamran selalu disibukkan dengan perang, menjaga teritorial Lebanon dari Israel. Ia juga ikut bertempur dalam mengawal revolusi Islam Iran, yang di awal-awal sudah diuji dengan peperangan melawan Kurdistan dan Iraq. Situasi dan kondisi semacam ini tak ayal membuat Ghadenh sering kesepian, sedih, dan menderita. Hanya harapan pada Chamran dan segera berakhirnya perang yang membuatnya tetap bertahan.

Tiba-tiba, untuk sesaat dada Ghadeh terasa sesak. Ia mendapat kabar bahwa pujaan hatinya tewas. Mustafa Chamran syahid. Ghadeh begitu ‘terpukul’. Walaupun begitu, ‘cahaya’ pengikut Ali bin Abi Thalib dan Khumaini ini tak pernah redup dalam diri Ghadeh. Baginya, Chamran bak lilin kecil di syair Arab di atas, dan ia adalah orang yang mengikuti cahayanya. Sungguh ajaib, karena acap kali Chamran berdoa;

“Ya Allah!... Kuingin Ghadeh memikirkanku seperti sepotong lilin-lemah-kecil yang menyala dalam kegelapan hingga akhir hayatnya, dan dia beroleh manfaat dari cahayanya untuk masa nan singkat. Kuingin dia memikirkanku bagai angin surgawi yang berhembus dari langit, yang membisikkan di telinganya kata-kata cinta dan pergi menuju kata tanpa batas...”

Dengan berlatar belakang Libanon Selatan dan Iran pada tahun 1970an, pertama-tama novel ini aku rasa berhasil menjelaskan watak seorang pejuang Islam yang dalam al-Qur’an disebut dengan “Asyiddaa’u alal kufaari, ruhamaa’u baynahum” (keras pada kaum kafir, dan bersifat penyayang di antara sesamanya). Dua hal yang dianggap paradoks; kelembutan dan kekerasan, mampu dipadukan dalam satu pribadi. Karenanya, tak heran jika dalam novel ini Ghadeh sering menyebut Chamran dengan sebutan ‘jelmaan kecil’ Ali bin Abi Thalib, sang ksatria sekaligus ayah para mustadhafiin.

Kedua, berdasarkan simbolisasi lilin ini, novel ini ingin mengenalkan kualitas suami ideal. Sebagaimana jamak diketahui bahwa dalam Islam suami adalah imam bagi istrinya, dan karena itu sudah selayaknya bagi dia menjadi ‘cahaya’ yang menunjuki isterinya pada kesempurnaan.

Ala kulli hal, penulisan novel ini boleh jadi mengandung banyak bias. Mengingat sang penulis hampir selalu menuliskan Mustafa Chamran –yang sempat menjabat sebagai Menteri Pertahanan Iran pasca-revolusi– dengan berdasar sudut pandang Ghadeh, isteri Chamran. Lebih dari itu, bila dianalisis lebih jauh, novel ini sepertinya hasil wawancara dengan Ghadeh atau bahkan ia sendiri penulisnya, namun memakai nama yang berbeda (penulis yang tertera di novel adalah Habibah Ja’fariyan). Wallahu a’lam bisshawab....
Baca lanjutannya dong...

26 Juni 2011

Ciuman Liu "Mengerem" Niat Bunuh Diri Pemuda Cina

0 comments

SHENZEN - Liu Wenxiu mendadak populer di Cina. Gadis 19 tahun ini berhasil menggagalkan upaya bunuh diri yang dilakukan seorang pemuda dengan ciuman mautnya.

Ceritanya, hari itu dia pergi berbelanja bersama teman-temannya ke sebuah pusat perbelanjaan ramai di Shenzhen, Provinsi Guangdong. Saat tengah makan di sebuah restoran, mereka menemukan kerumunan pengunjung mal. Rupanya, mereka tengah menonton seorang pemuda yang hendak mengiris lehernya dan terjun dari ketinggian.

Liu melihat, tak seorangpun yang berusaha membujuk sang pemuda. Bahkan, polisi di sekitarnya pun hanya berjaga-jaga saja.

Liu berlari mendekat. Polisi menghalanginya.

Tak kehilangan akal, ia mengaku sebagai pacar sang pemuda, dan pemuda itu hendak bunuh diri karenanya. Padahal, itu hanya cerita karangan Liu saja. "Saya hanya ingin mendekat padanya, mengajak bicara, dan syukur-syukur dia mengurungkan niatnya," katanya.

Ia mendekat. Dari obrolan, diketahui pemuda itu putus asa karena keluarganya berantakan. Sebagai anak hasil broken home, ia memahami perasaan sang pemuda. Mereka pun terlibat dialog.

Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas hati pemuda itu makin melunak. Liu kemudian berjalan perlahan mendekatinya, merangkulnya, dan kemudian menciummnya. Sang pemuda menjatuhkan pisau, dan membiarkan petugas pemadam kebakaran membantunya melompati pagar, menyelamatkan dirinya.

Apa yang mereka perbincangkan? Liu tutup mulut. "Ceritanya menyentuh saya. Tapi tiba-tiba saya merasa saya sangat memahaminya dan serasa saya adalah pacarnya," ujarnya, tersipu. So Sweet! (Republika, 27/06/2011)
Baca lanjutannya dong...

22 Mei 2011

Doa Anak dan Kebahagiaan Orang Tua

0 comments


Ketika Bahiyah, seorang wanita shaleh, menjelang ajal, ia menengadahkan kepalanya dan berdoa, “Duhai Tuhanku, Dialah yang menjadi pelindungku! Kuserahkan hidup-Ku pada-Mu, janganlah tinggalkan hamba di saat kematian dan bebaskanlah hamba dari siksa kubur.”

Setelah ia meninggal, sang putra kerap menziarahi kuburnya setiap Kamis malam dan Jum’at pagi. Ia melantunkan ayat-ayat al-Qur’an dan doa, memohon ampunan bagi sang ibu juga penghuni kubur lainnya.

Suatu malam, sang ibu hadir dalam mimipnya. Pemuda itu memberi salam dan bertanya, “Apa kabar ibu?” “Wahai putraku, pengalaman kematian tak tergambarkan, tapi Alhamdulillah aku dianugerahi tempat yang indah di alam barzakh.”

Sang pemuda bertanya, “Ibu adakah yang engkau inginkan?” Beliau menjawab, “ya putraku, teruslah membaca al-Qur’anul karim, berdoalah, dan berziarahlah kepadaku. Aku senang jika kau mengunjungiku setiap Kamis malam dan Jum’at pagi. Ketika kau datang, penghuni kubur yang lain berkata kepadaku, “Bahiyah, putramu datang”. Kabar ini membuat aku dan ahli kubur lainnya berbahagia.”


Tidak ingin mengecewakan sang ibu, pemuda itu pun terus membaca al-Qur’an dan menghaturkan doa bagi ibu dan ahli kubur lainnya. Suatu malam, ia bermimpi didatangi sekelompok orang. “Siapakah kalian?” Tanyanya. Mereka menjawab, “kami adalah penghuni kubur, kami datang untuk mengucapkan terima kasih karena kau telah membaca al-Qur’an dan berdoa bagi kami. Kami mohon, janganlah engkau menghentikan kegiatan ini.”

Baca lanjutannya dong...

 

Mengaktualisasikan Potensi-Potensi Copyright © 2008 Black Brown Art Template by Ipiet's Blogger Template