Satu minggu lalu, klub raksasa Inggris, Chelsea merayakan trofi Liga Champions pertamanya. Tidak begitu diunggulkan memang, namun Chelsea berhasil juara. Klub milik taipan tajir asal Rusia, Roman Abramovich ini menghentak dunia sepak bola. Meski berstatus sebagai tim underdog, namun perjuangan tim melawan keretakan dan permasalah internal yang didera tim saat masih dilatih Villas Boaz akhirnya membuahkan hasil.
Kala itu, banyak pengamat memprediksi bahwa masa Chelsea di Liga Champions tahun ini sudah habis setelah kalah 3-1 oleh Napoli. Terlebih, pada saat yang sama, Chelsea baru memecat pelatih saat itu, Villas Boaz dan berlalih ke Di Mateo yang merupakan asisten pelatih sebelumnya.
Namun Di Matteo, yang kalem dan sulit diprediksi, membuktikan tangan dinginnya.
Sejak diarsiteki Di Matteo, Chelsea mengami tren positif. Kemengan demi kemenangan diraih oleh tim biru ini. Di Mateo yang hanya diposisikan sebagai pelatih sementara memberikan piala pertamanya bagi Chelsea, Piala FA.
Tren yang sama juga berlaku di Liga Champions.
Misi sulit untuk menang sedikitnya empat gol atas Napoli di leg kedua perdelapan final Liga Champions berhasil dilalui. Benfica dan Barcelona menjadi korban berikutnya sampai akhirnya Bayern Muenchen dipermalukan di depan publiknya sendiri. Di Matteo sekali lagi membuktikan kapasitasnya sebagai ahli meracik tim, kendati Chelsea harus terlempar dari empat besar EPL atau yang pertama kali sejak 2003.
Di Matteo setidaknya menggagalkan dua asumsi kuat. Pertama, ternyata liga Champions tahun ini tidak diraih oleh tim unggulan yang sudah terlatih dengan ketat dan kerasnya liga champion, semacam Barcelona, Bayern Munchen, dan Real Madrid. Kedua, ternyata Abramovic salah dalam menilai pelatih. Artinya, tidak selalu pelatih yang membacawa suatu tim menjadi juara liga adalah pelatih top. Di matteo yang notabene hanya asisten yang diangkat menjadi pelatih sudah membatalkan asumsi ini.
Berkaitan dengan ini, menarik untuk mengetahui berapa trilliun yang sudah dikucurkan Abramovic untuk membangan Chelsea dan bagaimana sesuatu yang murah memberikan pelajaran bagi Abramovic. Bila dihitung, secara total hingga 2012, Abramovich sudah mengeluarkan dana $ 2,8 miliar (Rp 26 triliun). Angka itu sudah termasuk lebih dari $ 300 juta yang dikeluarkannya untuk melunasi utang Chelsea sekitar dua tahun lalu.
Abramovich memang memoles Chelsea lebih mewah. Dari sisi pemain, sejak 2003 hingga kini, dia telah merekrut lebih dari 60 pemain berkategori sangat populer. Menurut penelitian ahli keuangan olahraga, Daniel King, dari koran The Sun, nilai total transfer para pemain itu mencapai $ 1,02 miliar.
Di lapangan, musim 2003-04, Chelsea sudah mengancam papan atas EPL dengan menjadi juara dua dan mencapai semifinal Liga Champions. Setahun kemudian, berkat kehadiran pelatih Jose Mourinho, Chelsea benar-benar masuk dalam lingkungan elit Eropa. Dua gelar EPL secara beruntun (2005 dan 2006) menjadi pengakuan mereka. Itulah koleksi gelar EPL pertama Chelsea dalam setengah abad.
Sejak itu, Chelsea selalu menjadi kandidat juara EPL. Tetapi, uniknya, Abramovich terkesan menganggap biasa gelar juara EPL atau trofi Piala FA yang bergengsi atau Piala Liga Inggris. Nampaknya dia kenyang dengan 3 gelar EPL, 2 trofi Piala Liga dan 4 trofi Piala FA selama menjadi pemilik Chelsea. Dia hanya ingin melihat timnya merajai Eropa.
Itulah impian terbesarnya.
Itu sebabnya Chelsea memiliki 7 pelatih berbeda dalam 8 tahun terakhir. Pelatih permanen seperti Mourinho, Avram Grant, Luiz Felipe Scolari, Carlo Ancelotti dan Andre Villas Boas harus angkat koper dengan uang pesangon yang tidak sedikit.
Padahal Ancelotti, sebagai contoh, meraih gelar ganda pada musim pertamanya di Inggris dua tahun lalu. Pelatih dari Italia itu mengantar The Blues juara EPL dan Piala FA.
Sekali lagi, Abramovich tidak menganggapnya istimewa. Yang dia inginkan adalah Chelsea menjuarai Liga Champions. Dan di 3/4 musim ini, selepas pemecatan Villas Boas, Abramovich berpikir tentang ambisinya di musim depan. Fabio Capello disebut akan menjadi pelatih tetap Chelsea musim depan untuk mewujudkan proyek ambisius itu. Padahal, musim ini belum juga selesai dilalui oleh Terry dkk bersama pelatih sementara Roberto Di Matteo.
Apa nyana, Di Matteo berhasil melampaui segala ekspektasi dan prediksi semua orang, termasuk sang bos besar. Pertama, Di Matteo hanya pelatih sementara. Kedua, Di Matteo berwenang penuh saat Chelsea sedang berada dalam situasi sulit. Terseok-seok menuju papan atas EPL dan baru saja dihantam Napoli di perdelapan final Liga Champions pada bulan Maret 2012.
Di Matteo seakan membuat Abramovic kecele. Pasalnya, darinya yang hanya pelatih sementara, relatif lebih murah ketimbang pelatih-pelatih top Chelsea sebelumnya dan tidak mengenyam banyak pengalaman dalam bidang kepelatihan, berhasil mengantarkan Chelsea juara Liga Champions.
Mungkin Abramovic akan geleng-geleng tak percaya atas keberhasilan Di Matteo. Dan pastinya ia mesti berpikir ulang untuk menghadirkan pelatih top lainnya guna menggantikan Di Matteo.
Baca lanjutannya dong...














