19 Januari 2010

Pengalaman Mistis dan Wahyu


Diskursus ‘Pengalaman Mistis” baru mencuat pada akhir abad kesembilan belas pada ranah neo-teologi Barat. Diskursus ini kemudian semakin berkembang dan sering didiskusikan. Diskursus yang sama sebenarnya juga ada di dunia timur, bahkan dunia timur terutama dalam tradisi tasawufnya telah berabad-abad lamanya membincangkan tema ini. Tema ini hingga kini masih hangat bahkan menarik untuk terus didiskusikan.

Di antara sekian tanggapan terhadap pengalaman mistis, bisa dikatakan kesemuanya mengerucut pada dua perspektif besar, yakni mereka yang menerima dan menyakini adanya pengalaman mistis dan mereka yang tidak menerima dan menyakini pengalaman mistis. Asumsi dasar yang menjadi pijakan perspektif yang pertama adalah bahwa manusia adalah makhluk dua dimensi, yakni dimensi ruhani (batin) dan jasmani (lahir). Sedangkan asumsi dasar yang menjadi pijakan perspektif yang kedua adalah bahwa manusia hanyalah makhluk materi dan dengan demikian tidak ada unsur ruhani di dalamnya.

Pengalaman mistis sebagaimana yang nanti akan dijelaskan lebih lanjut terkait erat bahkan identik dengan dimensi ruhani manusia. Suatu dimensi yang dalam istilah agama monoteistik disebut sebagai ‘percikan cahaya Tuhan’. Bahkan Islam secara spesifik menyebutkan bahwa telah ada ‘ruh Tuhan’ di dalam diri manusia. Dimensi ruhani dalam makna yang umum dan luas dipahami sebagai jiwa manusia dengan hati sebagai pusatnya. Jiwa atau hati inilah yang menjadi penghubung Tuhan dengan manusia. Dalam konteks yang sama, penerimaan wahyu ~sebagai sebuah pengalaman mistis~ oleh nabi pun langsung tertuju pada hati nabi. Al-Qur’an menyebutkan secara tegas dan gamblang dengan kata ‘ala qalbika (pada hatimu) ketika menyebutkan turunnya wahyu pada nabi.

Pengertian Pengalaman Mistis
Pengalaman mistis identik dengan kesadaran terdalam dalam diri manusia, yakni jiwa (batin). Kesadaran ini bagaikan potensi yang akan aktual ketika diaktifkan secara sadar oleh manusia dengan gerakan atau ritual tertentu. Meski demikian, tak menutup kemungkinan bahwa kadang kesadaran ini muncul atau menjadi aktual ketika ada momen-momen tertentu.

Dalam pengertian yang sederhana namun umum, pengalaman mistis seringkali dipahami sebagai suatu momen ketika manusia (merasa) bersatu atau melebur dengan suatu kekuatan Yang Tinggi (Tuhan). Momen ini bukan suatu kesadaran akibat hasil berpikir, akan tetapi suatu perasaan yang jelas dan menyelimuti seseorang yang berpusat pada hatinya. Oleh karena itu, pengalaman mistis bisa dialami dan dirasakan oleh semua manusia selama mereka mengaktualkan kesadaran terdalam diri mereka itu.

Pada saat pengalaman mistis terjadi, subyek yang bersangkutan akan merasakan betul suatu kehadiran gaib dan ilahiah yang merengkuhnya, menyelimutinya, hingga ia melebur ke dalamnya. Di mana suatu kehadiran itu sendiri tidak lain dipahami sebagai Tuhan. Pengalaman ini dalam tahap yang selanjutnya memberikan efek pencerahan dan pemahaman diri sejati yang seringkali disertai dengan petunjuk-petunjuk yang tentunya berasal dari yang Gaib tersebut.

Dalam tradisi Islam, pengalaman mistis bahkan dijadikan sebagai sumber pengetahuan. Mengingat memang relasi atau interaksi yang terjalin lebih sadar pada pengalaman mistis seorang manusia dengan Tuhan memungkinkan Dia yang notabene sebagai basis, asal, dan pemilik pengetahuan memberikan sebagian ilmu-Nya pada manusia. Dengan kata lain, manusia mendapatkan ilmunya tanpa belajar, namun dalam waktu yang singkat dapat memeproleh pengetahuan dari-Nya. Dalam tradisi tasawuf Islam, pengalaman ini tidak lain adalah penyingkapan intuitif. Dan ilmu atau pengetahuan yang didapat dari proses yang demikian ini disebut dengan ilmu hudhuri.

Karakteristik Pengalaman Mistis

Pengalaman mistis kadang disejajarkan dengan situasi ganguan syaraf oleh mereka yang tidak mengetahui pengalaman mistis atau oleh mereka yang tidak meyakini kekuatan Gaib (Tuhan). Penyejajaran ini reduksionis dan cacat, karena tidak berdasarkan pemahaman yang komprehensif. Untuk itu agar tidak terjebak pada pemahaman yang demikian, berikut adalah empat karakteristik pengalaman mistis sebagaimana yang disebutkan oleh William James[1] , yaitu;

1. Tidak bisa diungkapkan. Orang yang mengalami pengalaman mistis menyatakan bahwa pengalaman ini tidak bisa diungkapkan. Dalam artian tidak ada penjelasan komprehensif dan menyeluruh yang mampu menjelaskan pengalaman mistis. Pernyataan seperti ini mengindikasikan bahwa orang yang ingin mengetahui pengalaman mistis harus mengalaminya sendiri.
2. Kualitas Neotik. Meskipun sangat mirip dengan situasi perasaan, bagi orang yang mengalaminya, situasi mistik itu juga adalah situasi berpengetahuan. Dalam situasi ini, orang mendapatkan wawasan tentang kedalaman kebenarn yang tidak bisa digali melalui intelek yang bersifat diskursif. Semua ini merupakan peristiwa pencerahan dan pewahyuan yang penuh dengan makna dan arti, tetapi tidak bisa dikatakan meskipun tetap dirasakan.[2]
3. Situasi transien. Karakteristik ini bermaksud bahwa situasi mistik tidak bisa bertahan lama. Paling lama keadaan mistis terjadi sekitar satu hingga dua jam.
4. Kepasifan. Demi mencapai kesadaran mistik bisa diusahakan atau dikondisikan oleh beberapa tindakan pendahuluan yang tentunya dilakukan secara sengaja, misalnya pemusatan pikiran, gerakan tubuh tertentu, atau menggunakan cara yang sesuai dengan apa-apa yang telah diajarkan dalam panduan mistisisme. Akan tetapi ketika keadaan mistis telah datang, maka si subyek yang mengupayakannya seperti sedang direngkuh, dikuasai oleh kekuatan yang lebih tinggi. Dalam kontkes inilah, ia menjadi pasif.

Empat karakteristik ini sejatinya tidak sepenuhnya mencakup seluruh karakteristik pengalaman mistis, karena mungkin saja ada karateristik lain yang belum tersebutkan dan James mengakui hal itu. Meski demikian, sebagai suatu upaya pembeda dengan gangguan penderita penyakit syaraf, saya rasa hal ini cukup membantu.
Lalu beranjak pada tahap selanjutnya, sebenarnya ada satu problem lagi terkait dengan pengalaman mistis, yakni apa yang membedakan pengalaman mistis yang murni dari Tuhan dan bukan. Pertanyaan ini menjadi perdebatan serius dalam pengkaji pengalaman mistis. Akan tetapi (tanpa bermaksud masuk ke dalam perdebatan tersebut), ada satu pesan pamungkas untuk membedakan pengalaman mistis yang murni dari Tuhan dan bukan, yakni dilihat dari hasil pengalaman mistisnya, entah itu berupa sikap atau pun perkataan. Dengan kata lain dilihat dari konteks pembenarannya (contect of justification). Atau dalam istilah James, “Dari buahnya-lah kita akan tahu perbedaan antara mukjizat Tuhan dan kepalsuan setan, bukan dari akar mereka.”[3]

Lebih dari itu, sebagai pembeda dengan pengalaman mistis yang bukan berasal dari Tuhan, dalam pengalaman mistis yang berasal dari Tuhan, ada keadaan khas yang dirasakan oleh seorang yang mengalaminya, yakni ia merasakan dirinya berada dalam keteduhan, kebahagiaan, keharuan, dan cinta kasih yang menggetarkan dan memesona. Sehingga dengan demikian, dapat kita tarik mafhum mukholafah-nya, yakni bahwa pengalaman yang di dalamnya terdapat kebencian, kesedihan, dan ketidaknyamanan secara otomatis tidak dapat dikatakan sebagai pengalaman mistis yang berasal dari Tuhan.

Sejauh ini bisa kita simpulkan bahwa pengalaman mistis melazimkan peleburan atau penyatuan dengan zat yang Suci. Pada kontkes inilah, James menyebut pengalaman ini sebagai union mystique. Atau dalam istilah mistisisme dikenal dengan istilah fana.

Pengalaman Mistis dan Wahyu

Wahyu adalah satu bentuk rasa dan pengalaman batin serta hubungan spiritual manusia dengan Tuhan. Rasa yang nonmaterial yang tidak dapat dialihkan pada lainnya. Tidak termasuk pandangan atau pemikiran dan tidak terwakili oleh kata. Akan tetapi merupakan satu bentuk kehadiran dan penyaksian batin.[4]

Wahyu dalam bentuk yang lain bisa juga bermakna perbincangan Tuhan dengan nabi. Ini adalah perbincangan tertinggi dan puncak perolehan manusia. Perbincangan ini terjadi di alam malakut. Oleh karena itu perbincangannya, yakni nabi mendengar kalam ilahi melalui pendengaran batin, yakni hati, dan bukan pendengaran fisik (indera pendengar). Al-Qur’an menyebutkan bahwa “Sesungguhnya ia (al-Qur’an) diturunkan oleh Tuhan Pengatur semesta alam. Dibawa turun oleh Ruhul Amin (Jibril) pada hatimu agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-194).

Pada ayat ini secara jelas disebutkan bahwa hati adalah lokus bagi turunnya wahyu. Hal ini bermakna bahwa wahyu secara langsung diterima hati nabi tanpa ada hubungan dan peran indera. Karena itu, nabi menyaksikan malaikat dan mendengar wahyu tanpa perlu bantuan indera penglihatan dan pendengaran. Andaikan pendengaran dan penglihatan wahyu melalui panca indera, maka orang-orang yang ada di sekitar nabi pada saat wahyu turun juga menyaksikan jibril dan mendengar suaranya sementara hal tersebut tidak terjadi.[5]

Wahyu yang turun meniscayakan kesucian ‘wadah’ yang akan menerimanya. Dan nabi pastilah orang yang memiliki ‘wadah’ yang suci’ yang siap menerima dengan mudah dan cepat pengetahuan Tuhannya. Rahasia-rahasia bumi dan langit serta hakikat segala sesuatu tampak jelas baginya. Apa yang didapat nabi dari wahyu kemudian terefleksi pada dimensi lahir nabi, baik itu sikap maupun perbuatan beliau. Menurut para urafa’, pengalaman-pengalaman wahyu para nabi adalah pengalaman mistik tertinggi dan merupakan ilmu hudhuri yang tidak memiliki kesalahan. Bahkan dalam proses pemindahan ilmu hudhuri ke ilmu hushuli, konsepsi-konsepsi rasional dan ke dalam bahasa manusia serta menyampaikannya kepada orang lain adalah juga terjaga dari segala bentuk kekeliruan dan kesalahan.
Wahyu dalam konteks sebagai terjadinya pengalaman mistik dan tanda kenabian, hanya terkhususkan bagi manusia-manusia pilihan Tuhan. Akan tetapi dalam konteks sebagai hanya pengalaman mistik dan hadirnya pengetahuan (dalam arti bukan sebagai tanda kenabian), wahyu bisa saja terjadi pada siapa pun. Beberapa filosof dan teolog kemudian untuk membedakan pengertian yang kedua ini dengan yang pertama, biasanya menyebut wahyu dalam konteks yang kedua sebagai ilham.

Sebagai pengalaman mistis dan tanda kenabian, ketika wahyu terjadi ada beberapa tanda-tanda yang sejarah Islam melalui riwayat-riwayatnya telah berhasil mencatatnya, di antaranya; adakalanya nabi jatuh pingsan dan keringat mengalir dari tubuh beliau, dan adakalanya beliau menjadi lemas. Kendati demikian “Dari beberapa hadits dapat diketahui bahwa kondisi-kondisi tersebut tidak terjadi setiap kali nabi menerima wayu. Akan tetapi, terjadi hanya saat nabi saw menerima wahyu dari Allah secara langsung tanpa melalui perantara Jibril.[6] Sebagaimana yang al-Qur’an sebutkan bahwa wahyu tidaklah terjadi kecuali melalui tiga bentuk, yakni perbincangan tersembunyi Tuhan dengan nabi secara langusng tanpa perantara, al-Qur’an mengistilahkan bentuk ini dengan illa wahyan (kecuali dalam bentuk wahyu); kedua, dari balik tirai (min wara’i hiab); dan bentuk ketiga, diutus utusan (yursila rasuulan).[7] Nah kondis-kondisi nabi yang tak seperti biasa itu terjadi ketika nabi menerima wahyu dalam bentuknya yang pertama.

Sahabat beliau tahu bahkan hampir akrab dengan tanda-tanda ketika wahyu turun. Akan tetapi, para sahabat nabi seringkali salah dalam mengungkapkan pengalaman mistis nabi tersebut. Terkadang mereka menyebut kondisi yang dialami nabi dengan ‘seperti kondisi mabuk’, ‘pingsan’, atau ‘wahyu membebani tubuhnya’. Ungkapan-ungkapan seperti ini bisa jadi malah mengkaburkan makna situasi dan kondisi yang sebenarnya ketika wahyu turun pada nabi. Dalam menanggapi hal ini Ibn Khaldun menjelaskan, “saat menerima wahyu para nabi melepaskan diri dari dunia ini dan dibayangkan sampai jatuh pingsan, padahal tidak demikian. Sesungguhnya mereka tenggelam dalam penyaksian malaikat. Saat itu mereka memiliki pemahaman khusus yang berbeda dengan pemahaman pada umumnya.[8]

Kondisi nabi yang tidak biasa ketika menerima wahyu memungkinkan tuduhan-tuduhan picik dan fitnah terlontar pada beliau. Di antaranya beliau pernah dituduh berpenyakit ayan, gila atau menderita sakit jiwa. Dan jelas tuduhan semacam ini tertolak karena secara faktual dan berdasarkan realita, nabi tidak gila, sakit jiwa, atau memiliki penyakit ayan. Nabi adalah pemimpin, ahli strategi, mampu memberi pengetahuan dan hukum pada manusia, mampu mengatasi dan melemahkan tipu daya para musuhnya, dan banyak lagi kesempurnaan beliau yang lainnya.

Kesimpulan
Dari apa yang sudah dijelaskan, setidaknya ada beberapa poin penting yang bisa saya simpulkan. Pertama, pengalaman mistis adalah pengalaman yang mungkin dan bisa terjadi pada setiap orang. Orang yang mengalami pengalaman mistis akan merasakan suatu kekuatan gaib dan ilahiah yang menguasai dan merengkuhnya, hingga ia kemudian melebur di dalam-Nya. Pada saat itu, ia bisa mendapatkan pengetahuan dari-Nya, karena Tuhan telah menyingkapkan untuknya ilmu-Nya.

Kedua, wahyu tidak lain terjadi di alam immateri. Nabi sebagai penerima wahyu mendapatkan perintah dan larangan Tuhannya, pengetahuan, rahasia-rahasia bumi dan langit serta hakikat segala sesuatu melalui ilmu hudhuri. Dengan demikian, pemberian wahyu berbeda dengan cara mendapatkan pengetahuan sebagaimana umumnya yang melalui proses berpikir atau menyusun proposisi-proposisi silogisme.

Ketiga, wahyu berpindah dari hati ke pemahaman beliau. Dengan kata lain, berbeda dengan manusia pada umumnya yang mendapatkan pengetahuan, pertama melalui indera kemudian memasuki pemahaman dan pada akhirnya masuk ke dalam hati. Nabi terlebih dahulu mendapatkan wahyu melalui hatinya baru kemudian terefleksi atau berpindah ke pemahaman beliau.

Keempat, kondisi saat terjadinya pengalaman mistis nabi ketika menerima wahyu tidak bisa dianggap secara sederhana bahwa nabi telah gila, stres, berpenyakit ayan, atau terkena gangguan syaraf. Pasalnya, bukti-bukti empiris dan data historis yang ada telah mengindikasikan bahwa nabi adalah seorang yang sehat secara fisik, akal dan perilakunya, bahkan dialah yang menjadi sumber teladan bagi masyarakatnya. Analoginya, seorang yang gila atau berpenyakit seperti yang disebutkan di atas tidak mungkin akan memiliki banyak pengikut, mampu memimpin, dan ahli dalam berbagai hal kecuali para pengikutnya itu juga orang yang gila dan berpenyakit, dan itu tidak mungkin.


[1]Lihat Wiliam James, Perjumpaan Dengan Tuhan: Ragam Pengalaman Religius Manusia, Mizan, h. 506.
[2]Ibid, h. 507.
[3]Ibid, h. 79.
[4]Ibrahim Amini, Our Religion, Al-Huda, h. 96.
[5]Ibid, h. 98.
[6]Ibid, h. 130.
[7]Lihat al-Qur’an QS. Asy-Syura: 51.
[8]Opcit, h. 132.


Daftar Pustaka
James, William, 2004. Perjumpaan Dengan Tuhan: Ragam Pengalaman Religius Manusia, Bandung: Mizan.
Amini, Ibrahim, 2007. Our Religion, Jakarta: Al-Huda.
Nasr, Sayyed Hossein. 1997, Pengetahuan dan Kesucian (Knowledge and Sacred), Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Yazdi, Mehdi Ha’iri, 2003. Menghadirkan Cahaya Tuhan: Epistemologi Iluminasionis dalam Filsafat Islam, Bandung: Mizan.
Yazdi, M.T. Mishbah, 2005. Iman Semesta, Jakarta: Al-Huda.

Related Post



5 comments:

secangkir teh dan sekerat roti on 21 Januari 2010 22.57 mengatakan...

izin menyimak.. :)

Bidina_ali on 29 Januari 2010 06.12 mengatakan...

Silahkan....^_^

sugank on 5 Februari 2010 15.45 mengatakan...

baca2 dulu ya...

ina on 8 Februari 2010 00.04 mengatakan...

Cari dukungan!!! hihihii

Suka dengan tulisan2 ina????,, Bantu dengan Vote Disini
Pilih Nafsul Muthmainah | http://inamuth2.blogspot.com Thanks kakag :)

asmanu on 24 April 2010 20.31 mengatakan...

post yang dalam dan bagus sekali sahabat...mohon ijin baca2 ya..

Poskan Komentar

Selalu ada tempat bagi komentar anda....

 

Mengaktualisasikan Potensi-Potensi Copyright © 2008 Black Brown Art Template by Ipiet's Blogger Template